Pemanfaatan Kayu Jabon ( bagian 1 )

jabon – Dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, hal tersebut berdampak pada manfaat yang bisa didapat pasca penebangan. Khususnya, dalam masalah pengolahan kayu Jabon menjadi komoditi siap pakai. Jabon bisa digunakan untuk berbagai macam komoditi, sesuai dengan kebutuhan yang hendak dibuat.

Mudahnya pemanfaatan kayu Jabon ini terkait dengan beberapa hal. Seperti bentuk kayu Jabon yang cenderung lurus, serta memiliki sedikit mata kayu. Banyaknya mata kayu dalam sebuah pohon, merupakan salah satu kendala yang banyak menghambat pengoptimalan sebuah kayu untuk diolah menjadi produk jadi.

Jumlah mata kayu yang ada pada sebuah tebangan kayu, merupakan salah satu unsur yang menentukan apakah sebuah kayu bisa dikatakan berkualitas atau tidak. Sebab, keberadaan mata kayu tersebut bisa menyebabkan hasil pengolahan kayu menurun kualitasnya. Semakin banyak jumlah mata kayu dalam sebatang pohon, berarti semakin sedikit bagian kayu tersebut yang bisa dimanfaatkan menjadi barang jadi.

Inilah mengapa, banyak industri berbasis kayu yang lebih menyukai Jabon sebagai bahan dasar industri mereka. Sebab, kayu Jabon dikenal memiliki jumlah mata kayu yang sedikit sehingga jumlah bagian yang bisa diolah lebih optimal. Kondisi ini berdampak pada semakin kecilnya angka lost atau bagian kayu yang tidak bisa dimanfaatkan. Dengan demikian, dari sisi keuangan bisa menekan jumlah kerugian atas kayu yang tidak termanfaatkan tersebut.

proses pembuatan kayu lapis dengan mesin rotari

Selama ini ada beberapa industri yang sudah menggunakan kayu Jabon sebagai bahan produksi mereka. Beberapa di antaranay adalah :

1.   Kayu Lapis

Dalam industri kayu lapis, ada beberapa syarat yang harus dimiliki sebuah batang kayu agar memenuhi kelayakan sebagai bahan dasar kayu lapis. Di antaranya adalah bahwa dalam setiap batang harus memiliki bentuk batang yang silindris, bebas cabang, diameter besar dan memiliki serat lurus. Syarat lain adalah kerapatan atau berat jenis diutamakan 0,50-0,55 g/ cm3. Selain itu, batang kayu harus mudah dikupas, mudah dikeringkan dan direkat. Susut arah lebar vinil kecil di bawah 6,5 %, warna dan gambar kayu yang sama dan bebas cacat mata kayu, kayu reaksi dan lain-lain.

Dan semua syarat yang dibutuhkan sebagai bahan pembuatan kayu lapis itu ada pada kayu Jabon. Di mana bentuk kayu jabon yang lurus, dengan warna kayu teras berwarna putih. Tekstur Jabon yang bervariasi mulai agak halus sampai agak kasar dengan arah serat lurus. Kayu jabon juga terhitung mudah dikeringkan. Dengan pengeringan alami, membutuhkan waktu 38 hari sementara dengan alat pengering dianjurkan menggunakan suhu 57-76,5 derajat. Kelebihan jabon adalah, pada saat dikeringkan hanya menimbulkan sedikit cacat berupa pecah dan retak dengan ujung yang sedikit mencekung. Sehingga hal ini menyebabkan tidak terlalu banyak bagian kayu jabon yang terbuang untuk digunakan sebagai bahan pembuat kayu lapis.

Selain itu, jabon juga mudah untuk direkatkan. Perekatan venir kayu jabon dengan menggunakan Ultraviolet, menghasilkan kayu lapis yang memenuhi persyaratan standar Indonesia, Jepang dan Jerman. Jabon juga dipilih sebagai bahan baku kayu lapis, karena mudah dikupas. Sudut kupas yang bisa dihasilkan adalah 92o untuk tebal veneer 1,5 mm.

Kondisi yang ada pada kayu Jabon inilah yang kemudian menjadikan Jabon layak digunakan baik untuk Face Veneer atau Core Veneer. Face Veneer adalah bagian muka dari kayu lapis, dan Core Veneer adalah bagian tengah dari kayu lapis itu sendiri.

2.   Papan Lamina

    Papan lamina adalah salah satu jenis industri turunan berbasis kayu. Produk ini dibuat dengan cara merekatkan dua atau tiga papan dengan menggunakan lem khusus. Papan-papan tersebut direkatkan dengan memperhatikan arah serat secara paralel dan dijadikan satu unit papan.
    Biasanya, papan lamina ini digunakan dalam sebuah kontruksi bangunan. Tujuannya adalah menciptakan papan yang lebih kuat, selain juga demi memunculkan kesan artistik pada bangunan yang sedang dibuat tersebut. Pada awalnya, papan lamina dibuat dengan menggunakan kayu pinus dan kayu konifer sebagai bahan bakunya.
    Namun, dengan adanya kayu jabon, industri pembuat papan lamina beralih menggunakan kayu jabon yang dianggap lebih kuat serta memiliki serat yang lebih baik dari kedua kayu tersebut. sebuah kayu lamina memiliki ketebalan pada setiap lapisan setebal 20-45 mm. Lapisan tersebut kemudian dikeringkan untuk selanjutnya diberi lem sebagai perekat dan kemudian ditekan menggunakan alat khusus.

    ( bersambung ) Jabon

 

Incoming search terms:

Comments

  1. mas, ketika kebun jabon panen apakah didaerah riau (sumatera) ada penampungnya?

  2. Hi to all, how is all, I think every one is getting more from this website, and your views are fastidious for new viewers.

Speak Your Mind

*